Seminar PDP kami selasa kemarin menampilkan seorang guru yang sudah mengajar selama 30 tahun di SMA Suzaku di Kyoto.  Namanya Pak Ichikawa.  Beliau mengajar Biologi.  Kedatangan Pak Ichikawa di forum seminar kami bertujuan untuk menjelaskan tentang survey sekolah yang dilaksakan di SMA Suzaku.

Tapi ada hal menarik yang saya tangkap dalam pembicaraan beliau yang mengasyikkan selama hampir 2.5 jam non stop, yaitu tentang peraturan sekolah di SMA Suzaku.  Anak-anak Suzaku tak diwajibkan memakai seragam, tapi mereka tidak diperbolehkan mengenakan asesoris tertentu.

Beberapa peraturan yang terdengar lucu adalah : rambut tidak boleh di-pam, di-punk, atau bergaya rambut Don king atau gaya rambut yang aneh.  Wanita tidak boleh mengenakan sepatu berhak atau sepatu yang berbunyi ketika dipakai berjalan.  Laki-laki tidak boleh memakai anting. HP tidak boleh dinyalakan ketika belajar.

Aturan-aturan itu mungkin sedikit aneh bagi beberapa sekolah yang mewajibkan seragam.  Tapi bagi SMA Suzaku aturan itu perlu dibuat karena siswa bebas memakai pakaian sopan apa saja ke sekolah.  Ketika pertama kali diterapkan, banyak siswa yang menentang.  Tapi Pak Ichikawa punya resep agar anak-anak Suzaku mau mengikuti peraturan sekolah.  Intinya beliau mengajak anak-anak yang menentang untuk berdialog, dan menanyai mereka alasan penentangan plus menjelaskan kenapa rambut tak boleh di-pam atau sepatu tak boleh berbunyi.

Ya, rambut yang di-pam memang tak perlu disisir (kalau disisir, pam-nya rusak-red).  Anak-anak yang mempunyai rambut gaya pam, selalu disibukkan dengan memegang-megang rambutnya agar membentuk gelombang (pam), dan ini seringkali mengganggu konsentrasi mereka.  Satu lagi, biayanya mahal (di Nagoya, sekitar 7 ribu yen).

Lalu kenapa tak boleh memakai sepatu berhak ?  Karena sepatu berhak bising ! Bunyinya ‘urusai’ (ribut) kata orang Jepang.  Saya paling tak suka jika berjalan di stasiun ketika menuruni tangga berpapasan dengan gadis-gadis Jepang yang memakai sepatu berhak dan berbunyi tak-tak-tak atau tuk-tuk-tuk.  Mereka sepertinya menikmati sekali bunyi itu, sebab selalu saja mereka berlari dan tak berusaha berjalan pelan-pelan agar suara bisa diredam. Sedangkan telinga saya hampir pekak rasanya !

Peraturan di sekolah harus merupakan sesuatu yang masuk akal !  Pak Ichikawa mengatakan anak-anak SMA adalah orang dewasa yang masih mature tapi bisa memahami istilah “jama” (= mengganggu).  Maksudnya, peraturan dibuat agar orang lain tak merasa terganggu.  Dan anak-anak pun dibiasakan berfikir mengapa mereka tak boleh begini tak boleh begitu, sebab orang lain akan terganggu.

Tentu saja agak sulit menanamkan ini di tengah upaya guru menanamkan pengertian “jiyu” (kebebasan).  Sebab selama bertahun-tahun pendidikan Jepang adalah pendidikan yang terkungkung, tanpa mengenal kata demokrasi dan kebebasan. Namun menarik untuk menganalisa, bagaimana ide kebebasan itu diajarkan di Jepang sementara konsep “kekakuan, kesopanan ” ala Jepang masih harus dipertahankan.

Selain menyodorkan peraturan yang sudah jadi kepada siswa, ada baiknya juga menanyai mereka peraturan apa yang mesti diperbaharui, atau dibuat supaya sekolah menjadi aman untuk belajar.  Yang ini biasanya tidak dilakukan di sekolah-sekolah, termasuk SMA Suzaku.